Ramadan Hari Keduapuluhtujuh

Minggu, 07 April 2024 0 Comments

Image by Gerd Altmann from Pixabay


Buatmu yang ragu memulai, berhati-hatilah siapa tahu kamu malah menyesal, karena waktu itu kini cepat sekali bergeraknya. Tahu-tahu kamu sudah bekerja, sudah melewati banyak hal, dan menyesal kenapa dulu nggak memulai, apakah khawatir terlambat? Kata siapa? Memang kamu yang menentukan terlambat atau tidak? Jika ia memulai lebih dulu memang memiliki banyak keuntungan, tetapi belum tentu ia konsisten dalam melakukan. Dan terlambat memang masalah, tapi bukan berarti harus menyerah.

Apakah keterlambatan orang lain menentukan kita? Memangnya kita HRD-kehidupan, hidupmu lebih memilih untuk diatur orang daripada diatur oleh dirimu sendiri. Kita memang perlu belajar dari pengalaman orang lain, tapi kalau soal pemikiran (hadeh) belum tentu dia benar, belum tentu standar dia cocok untuk dipakai, belum tentu omongannya seratus persen akurat, kalau takut terus, terus kemudian menyesal, mau diapain lagi.

Memulai memang terasa berat, soalnya dari yang tadinya nggak pernah jadi melakukan. Kebayang hal-hal yang nggak enak, nanti dibicarain, dihujat, dikomentari, tapi apakah kita mengantungkan kebahagiaan kita pada pandangan orang lain, memangnya pengurus kehidupan kita mereka, memangnya progress kehidupan kita harus sebergegas kereta cepat, kita berproses sesuai dengan kehidupan yang terkadang tak sesuai dengan rencana.

Biasanya banyak salahnya, banyak bodohnya, tapi tetap saja dilakukan. Mau dimarahin sampai nangis kek, dibentak-bentak sampai mumet, namanya juga masih bodoh, masih belum paham. Tapi kalau bodoh terus agak membingungkan juga, sudah lama melakukan tapi masih bodoh, maksudnya kamu nggak mau berkembang atau memang sengaja dipaksa oleh keadaan yang membatasimu untuk bertindak. Daripada kelak dipaksa oleh keadaan, mendingan memutuskan untuk berkembang dan bergerak sekarang.

Lagipula memulai itu berat dan butuh konsisten yang juga sama beratnya. Butuh tekad dan keteguhan untuk menjalankannya dan percaya pada prosesnya. Sedangkan kita maunya instan, maunya pluk yang langsung muncul. Padahal dibalik hal yang mudah tadi butuh proses yang sulit dan tidak sebentar. Bisa cari cara cepat, cara mudah, tetapi apakah memang itu hal yang pantas untuk dilakukan? Kalau pantas silahkan saja. Membuat jadi mudah itu memikirkannya pun juga butuh waktu, butuh pengorbanan, buat menjadi problem solver yang baik.

Saya melihat berita pelecehan seksual, mungkin karena otaknya sudah rusak, makanya ia nggak bisa mengontrol nafsunya yang begitu liar, mereka yang sudah tak tertolong itu mencari mangsa sebagai korban mereka, korban ketakutan, membeku, dan tak bisa berbuat apa-apa. Setelahnya korban menangis karena merasa telah dikotori, jijik dengan dirinya sendiri, dengan badannya, merasa badannya bukan lagi bagian daripada dirinya, ia merasa pasrah dan tak ingin memberitahukan bencana buruk tersebut kepada orang lain, karena merasa kacau dan hancur.
 

0 Comments:

Posting Komentar

Tolong menggunakan bahasa yang baku dan tanpa singkatan, terima kasih.

 

©Copyright 2011 Suka Narasi | TNB